oldandstandrews.com, 25 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Kyiv/Moskow, 25 April 2025 – Gencatan senjata sementara yang diberlakukan antara Rusia dan Ukraina selama perayaan Paskah Ortodoks berakhir dalam ketegangan setelah kedua pihak saling menuduh telah melanggar kesepakatan yang semestinya membuka ruang bagi jeda kemanusiaan. Alih-alih meredakan konflik, gencatan ini justru memperdalam kecurigaan dan memperkeruh situasi di garis depan yang sudah genting.
Latar Belakang: Gencatan Senjata untuk Perayaan Keagamaan

Perayaan Paskah Ortodoks merupakan salah satu momen paling suci bagi umat Kristen di wilayah Eropa Timur, termasuk Rusia dan Ukraina. Dalam semangat kemanusiaan dan keagamaan, kedua negara secara sepihak mengumumkan penghentian sementara operasi militer selama tiga hari, terhitung dari malam Sabtu (19 April) hingga Senin malam (21 April).
Langkah ini mendapatkan dukungan dari tokoh-tokoh gereja Ortodoks di kedua negara serta seruan dari berbagai lembaga kemanusiaan internasional. Meski tidak difasilitasi secara resmi oleh PBB atau OSCE, kesepakatan ini dipandang sebagai peluang penting untuk menunjukkan niat baik dan membuka jalur menuju negosiasi lebih lanjut.
Namun, dari awal, keraguan telah muncul karena tidak adanya mekanisme pemantauan independen serta sejarah pelanggaran gencatan senjata dalam konflik ini sebelumnya.
Ukraina: Rusia Langgar Gencatan Sejak Hari Pertama

Kementerian Pertahanan Ukraina dalam pernyataan resminya pada Selasa pagi (22 April) menyatakan bahwa pasukan Rusia telah melakukan beberapa pelanggaran serius terhadap gencatan senjata, termasuk serangan artileri dan roket yang menyasar posisi Ukraina di timur Donetsk dan sekitarnya.
Pernyataan Militer Ukraina:

“Pasukan Rusia tidak menunjukkan niat menghormati komitmen gencatan senjata. Serangan mereka terhadap Avdiivka dan Bakhmut merupakan bukti nyata pelanggaran yang disengaja.”
— Kolonel Serhii Cherevatyi, Juru Bicara Komando Timur Ukraina
Selain itu, Ukraina juga menuduh adanya pergerakan kendaraan lapis baja Rusia di wilayah Zaporizhzhia selama masa gencatan. Mereka menyebut bahwa setidaknya lima tentara Ukraina gugur dan tujuh lainnya luka-luka akibat serangan yang terjadi pada malam Paskah.
Rusia Balik Menuduh Ukraina Melanggar Gencatan

Di pihak lain, Rusia menolak tuduhan tersebut dan justru menyalahkan Ukraina atas pelanggaran gencatan senjata. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, pasukan Ukraina melakukan serangan drone dan tembakan mortir terhadap posisi Rusia di Donetsk dan Luhansk.
Pernyataan Rusia:
“Ukraina menyalahgunakan masa gencatan senjata untuk meluncurkan serangan mendadak dan menyusup ke zona taktis kami. Ini bukan pertama kalinya mereka melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan tidak tertulis.”
— Letjen Igor Konashenkov, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia
Rusia menyatakan bahwa serangan dari pihak Ukraina memaksa mereka untuk “merespons secara proporsional demi mempertahankan posisi militer dan melindungi warga sipil di wilayah yang dikuasai”.
Reaksi dari Masyarakat Internasional

Kegagalan gencatan senjata Paskah ini memicu keprihatinan global. PBB melalui juru bicara Sekretaris Jenderal mengeluarkan pernyataan yang mengecam pelanggaran dari kedua pihak dan mendesak dilakukannya investigasi independen.
PBB:
“Kami menyesalkan tidak digunakannya momen keagamaan ini untuk memperkuat semangat perdamaian dan perlindungan terhadap warga sipil. Semua pihak harus tunduk pada hukum humaniter internasional.”
— Stéphane Dujarric, Juru Bicara Sekjen PBB
Uni Eropa, melalui Perwakilan Tinggi Urusan Luar Negeri Josep Borrell, menambahkan bahwa pelanggaran ini memperlihatkan betapa rapuhnya situasi dan mendesak perlunya dimulainya kembali proses diplomasi.
Sementara itu, Vatikan dalam pesan Paskah Paus Fransiskus menyatakan “kesedihan mendalam” atas berlanjutnya kekerasan di tengah perayaan keagamaan, seraya menyerukan dialog dan pembukaan koridor kemanusiaan bagi warga sipil yang terjebak konflik.
Kondisi di Lapangan Pasca Gencatan
Sejak berakhirnya masa gencatan pada Senin malam, laporan dari berbagai sumber di lapangan menunjukkan bahwa pertempuran kembali meningkat. Suara artileri dilaporkan terdengar di wilayah timur dan selatan Ukraina. Analis pertahanan menyebut bahwa kedua pihak tampaknya telah memanfaatkan gencatan senjata untuk mempersiapkan fase pertempuran baru.
Pengamat Menilai:
“Gencatan senjata ini lebih bersifat simbolis tanpa implementasi teknis yang jelas. Tanpa pengawasan pihak ketiga, tuduhan pelanggaran akan terus saling dilempar.”
— Mykola Bielieskov, Analis Pertahanan dari Institut Strategis Ukraina
Upaya Damai yang Terus Gagal
Sejak invasi Rusia pada Februari 2022, berbagai upaya damai telah dilakukan oleh pihak internasional—mulai dari mediasi PBB, intervensi diplomatik Turki, hingga seruan Vatikan—namun semuanya gagal menghasilkan gencatan senjata yang langgeng. Baik Rusia maupun Ukraina terus menolak duduk bersama tanpa prasyarat yang sesuai dengan posisi masing-masing.
Ukraina bersikeras bahwa integritas teritorialnya harus diakui penuh, sementara Rusia bersikeras mempertahankan kendali atas wilayah yang telah dicaplok secara sepihak.
Penutup: Masa Depan Gencatan Senjata
Berakhirnya gencatan senjata Paskah ini sekali lagi menunjukkan bahwa konflik Rusia-Ukraina masih jauh dari kata usai. Harapan untuk jeda kemanusiaan, bahkan di hari-hari suci keagamaan, tampak semakin suram tanpa adanya komitmen politik yang kuat dari kedua belah pihak dan dukungan yang lebih tegas dari komunitas internasional.
Selama kedua negara masih mengandalkan kekuatan militer sebagai alat utama negosiasi, jeda seperti ini hanya akan menjadi ilusi damai sementara di tengah realitas perang yang brutal dan berlarut-larut.
BACA JUGA: Caracas, Venezuela: Kota Indah namun Paling Berbahaya di Dunia
BACA JUGA: Denmark Mau Kirim Pasukan Ke Ukraina: Langsung Di Respon Keras Rusia
BACA JUGA: Inilah yang Terjadi Jika Dajjal Bertemu Nabi Khidir di Akhir Zaman – Sejarah Islam