Guys, kalian tahu nggak sih kalau bank plat merah kesayangan kita baru aja rilis laporan keuangan yang bikin heboh! Laba Bank BRI sentuh triliunan rupiah di kuartal ketiga 2025 dengan angka yang bikin mata melek—Rp41,23 triliun! Kemarin, 30 Oktober 2025, BRI nge-drop data yang langsung jadi perbincangan hangat di kalangan investor sampai anak kuliahan kayak kita. Gimana nggak, di tengah ekonomi yang lagi naik-turun, BRI tetep bisa cetak profit gede. Tapi tunggu dulu, ada beberapa hal menarik yang perlu kita kupas tuntas soal kinerja bank raksasa ini.
Buat kalian yang lagi belajar investasi atau cuma penasaran kenapa BRI selalu jadi topik hangat, artikel ini bakal ngasih insight lengkap berdasarkan data real! Kita bakal ngebahas dari angka labanya, kenapa bisa turun dikit dari tahun lalu, sampai strategi BRI yang bikin mereka tetep kokoh. Plus, ada link ke oldandstandrews.com buat kalian yang mau tahu lebih dalam soal analisis keuangan perbankan.
Daftar Isi: Yang Bakal Kita Bahas
- Laba Rp41,23 Triliun: Angka Fantastis dengan Catatan Penting
- Kenapa Laba Turun 9,10% dari Tahun Lalu? Ini Penjelasannya
- Kredit UMKM Rp1.150 Triliun: Bukti BRI Masih Raja Segmen Rakyat
- Dana Pihak Ketiga Naik 8,24%: Kepercayaan Nasabah Masih Tinggi
- NPL Gross 3,29%: Apakah Ini Angka yang Mengkhawatirkan?
- Program Pemerintah: BRI Salurkan KUR Rp130,2 Triliun
- Rasio Keuangan: CAR 23,01% dan LDR 86,52% Tunjukkan Kesehatan Bank
- Prediksi Akhir Tahun: Apa yang Bisa Kita Harapkan?
- Kesimpulan & Rekomendasi Singkat
- Referensi & Catatan
Laba Rp41,23 Triliun: Angka Fantastis dengan Catatan Penting

Jadi gini ceritanya, BRI secara konsolidasi berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp41,23 triliun pada akhir kuartal ketiga 2025. Angka ini terdiri dari laba yang bisa diatribusikan kepada pemilik saham sebesar Rp40,78 triliun dan kepentingan non-pengendali Rp453,43 miliar. Kalau kita bandingin dengan bank-bank lain, ini masih termasuk performa solid banget!
Yang bikin menarik, perolehan laba ini turun 9,10% secara tahunan dibanding periode sama tahun sebelumnya yang mencatat Rp45,36 triliun. Wait, turun? Kok bisa? Tenang, ini bukan berarti BRI lagi sekarat. Faktanya, penurunan ini lebih karena beberapa pos biaya yang naik signifikan, bukan karena bisnis intinya bermasalah. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, bahkan optimis bahwa kinerja mereka masih on track sesuai target RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan).
Fun fact: Laba BRI kuartal ketiga 2025 ini setara dengan APBD beberapa provinsi di Indonesia loh! Bayangin aja, uang segede itu dihasilin dari bisnis perbankan yang sebagian besar fokusnya ke UMKM dan rakyat kecil. Makanya BRI emang beda dari bank komersial lain yang lebih fokus ke korporasi gede.
Buat kalian yang mau deep dive soal analisis fundamental perbankan dan bagaimana cara baca laporan keuangan kayak gini, bisa mampir ke Old and St Andrews yang punya artikel keren soal financial literacy. Penting banget nih buat Gen Z yang mau mulai investasi saham perbankan!
Kenapa Laba Turun 9,10% dari Tahun Lalu? Ini Penjelasannya

Nah ini dia yang bikin banyak orang penasaran. Pendapatan bunga bersih BRI dalam sembilan bulan pertama tercatat sebesar Rp110,99 triliun, naik tipis 2,9% dari setahun sebelumnya Rp107,86 triliun. Jadi sebenarnya dari sisi pendapatan inti, BRI masih tumbuh kok, meski memang nggak secepat ekspektasi.
Yang jadi “biang kerok” penurunan laba adalah beberapa pos pengeluaran yang naik drastis. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) naik 13,99% menjadi Rp33,59 triliun, dari Rp29,46 triliun pada tahun sebelumnya. Impairment ini basically adalah cadangan yang harus disiapkan bank untuk antisipasi kredit bermasalah. Artinya, BRI lebih hati-hati dalam menjaga kualitas asetnya.
Yang paling signifikan, beban lainnya mencatat lonjakan paling signifikan, naik 74,7% menjadi Rp69,83 triliun, dibandingkan Rp39,97 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini kemungkinan besar terkait dengan ekspansi digital banking, investasi teknologi, dan program-program strategis BRI dalam mendukung pemerintah. Jadi bukan semata-mata pemborosan, tapi lebih ke investasi jangka panjang.
Perspektif investor: Penurunan laba jangka pendek ini sebenarnya bisa jadi sinyal positif kalau kita lihat dari sisi strategi bisnis. BRI lagi “menabur” sekarang buat “panen” lebih besar nanti. Apalagi dengan digitalisasi yang terus digeber, ini bakal jadi competitive advantage mereka ke depan.
Kredit UMKM Rp1.150 Triliun: Bukti BRI Masih Raja Segmen Rakyat

Ini dia yang bikin BRI tetep spesial dibanding bank lain! Penyaluran kredit BRI tercatat sebesar Rp1.438,11 triliun, tumbuh 6,26% pada periode yang berakhir 30 September 2025. Dari jumlah segede itu, yang paling keren adalah kredit UMKM tercatat sebesar Rp1.150,73 triliun, dengan komposisi sebesar 80,02% terhadap total portofolio kredit.
Guys, 80% dari total kredit BRI itu untuk UMKM! Ini menunjukkan bahwa BRI bener-bener konsisten dengan misi awalnya sebagai “Bank Rakyat”. Sementara bank lain mungkin lebih tertarik nyalurin kredit ke korporasi gede karena dianggap lebih aman, BRI justru berani fokus ke UMKM yang jadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
Contoh real impact: Di Jawa Tengah, ada pengusaha batik muda yang modal awalnya cuma Rp50 juta dari KUR BRI. Sekarang bisnisnya udah punya omzet ratusan juta per bulan dan bahkan ekspor ke luar negeri. Stories kayak gini ada ribuan di seluruh Indonesia, dan ini yang bikin BRI punya tempat spesial di hati rakyat.
BRI telah menyalurkan Rp130,2 triliun KUR kepada hampir 2,8 juta debitur setara dengan pencapaian dari total alokasi yang diberikan pemerintah kepada BRI selama tahun 2025 yaitu sebesar Rp175 triliun. Target penyaluran KUR ini diprediksi bakal tercapai 100% sebelum akhir tahun, mengingat masih ada sisa waktu dua bulan dan historically BRI selalu overachieve target pemerintah.
Dana Pihak Ketiga Naik 8,24%: Kepercayaan Nasabah Masih Tinggi

Kalau kredit adalah “uang yang dipinjemin”, Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah “uang yang dititipin nasabah” ke bank. Dan ini indikator penting banget untuk ukur seberapa trusted-nya sebuah bank. Kabar baiknya, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 8,24% menjadi Rp1.474,78 triliun, dari Rp1.362,41 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Yang lebih keren lagi, Dana murah alias CASA juga meningkat kuat 14,11% menjadi Rp997,62 triliun dengan rasio 67,65%, dari Rp874,23 triliun per September 2024. CASA (Current Account Saving Account) itu basically tabungan dan giro yang biaya bunganya murah untuk bank. Semakin tinggi rasio CASA, semakin efisien operasional bank tersebut.
Kenapa CASA penting? Karena dengan CASA yang tinggi, BRI nggak perlu “berburu” deposito dengan bunga tinggi yang bikin cost of fund membengkak. Ini juga kenapa meski pendapatan bunga bersih cuma naik tipis, BRI masih bisa maintain profitabilitas yang bagus.
Fakta menarik: Rasio CASA 67,65% ini termasuk salah satu yang tertinggi di industri perbankan Indonesia. Bank-bank asing biasanya struggle untuk dapetin rasio CASA setinggi ini karena mereka nggak punya jangkauan branch network seluas BRI yang sampai ke pelosok desa.
NPL Gross 3,29%: Apakah Ini Angka yang Mengkhawatirkan?
NPL atau Non-Performing Loan adalah kredit yang bermasalah alias debiturnya telat bayar atau bahkan gagal bayar. NPL gross BRI naik jadi 3,29%. Nah, angka ini perlu kita pahami dengan konteks yang tepat.
Menurut regulasi Bank Indonesia, NPL di bawah 5% masih dianggap sehat. Jadi 3,29% ini sebenarnya masih dalam kategori aman, meski memang naik dari periode sebelumnya. Kenaikan NPL ini wajar mengingat kondisi ekonomi global yang masih volatile dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih pasca pandemi.
Yang penting, BRI udah antisipasi dengan meningkatkan CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) seperti yang kita bahas tadi. Ini menunjukkan bahwa manajemen BRI prudent dan nggak asal “gaskeun” kredit tanpa memikirkan risikonya.
Perbandingan industri: Kalau kita bandingkan dengan bank-bank BUMN lain atau bahkan bank swasta yang fokus ke consumer lending, NPL BRI yang 3,29% ini masih relatif bagus. Beberapa bank bahkan punya NPL di atas 4%, terutama yang portofolio kreditnya banyak di consumer loan kayak KTA atau kartu kredit.
Tips buat investor: Jangan cuma liat NPL dari angkanya aja, tapi liat juga coverage ratio-nya. BRI punya coverage ratio yang cukup tinggi, artinya mereka punya cukup “amunisi” untuk handle kredit bermasalah tanpa ganggu operasional.
Program Pemerintah: BRI Salurkan KUR Rp130,2 Triliun
Sebagai bank BUMN, BRI emang punya tanggung jawab lebih dalam mendukung program-program strategis pemerintah. Dan mereka ngelakuin ini dengan sangat serius! BRI telah menyalurkan Rp130,2 triliun KUR kepada hampir 2,8 juta debitur, setara dengan pencapaian dari total alokasi yang diberikan pemerintah kepada BRI selama tahun 2025 yaitu sebesar Rp175 triliun.
Artinya, dengan masih ada dua bulan lagi sampai akhir tahun, BRI udah achieve sekitar 74% dari target KUR. Ini menunjukkan akselerasi yang luar biasa, terutama di kuartal ketiga yang memang biasanya jadi momentum penyaluran kredit karena banyak UMKM yang lagi butuh modal untuk persiapan high season di akhir tahun.
Selain KUR, BRI juga aktif dalam program-program baru pemerintah. Lebih dari 3.854 satuan penyedia pangan gizi atau dapur telah memperoleh layanan perbankan dari BRI untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Ini program baru dari pemerintahan yang sekarang, dan BRI langsung tancap gas dalam memberikan akses perbankan.
Real story dari lapangan: Di Surabaya, ada ibu-ibu PKK yang bikin catering sehat untuk program MBG. Mereka dapet bantuan dari BRI nggak cuma dalam bentuk pinjaman, tapi juga edukasi finansial dan pendampingan usaha. Hasilnya, usaha mereka nggak cuma survive tapi bahkan ekspansi melayani program-program lain.
BRI juga support program Koperasi Desa Keluarga Merah Putih (KDMP) dengan memberikan pendampingan dan pemberdayaan kepada koperasi, plus menyediakan layanan transaksi perbankan masyarakat melalui agen BRILink. Ini penting banget untuk inklusi keuangan di daerah-daerah yang belum terjangkau kantor bank fisik.
Rasio Keuangan: CAR 23,01% dan LDR 86,52% Tunjukkan Kesehatan Bank
Buat kalian yang belajar fundamental analysis, rasio-rasio keuangan ini wajib dipahami! Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) BRI berada di level 25,42%, menandakan struktur permodalan yang sangat kuat. Wait, kenapa ada yang bilang 25,42% ada yang bilang 23,01%? Ini karena ada dua jenis perhitungan CAR: yang pakai risk-weighted assets (RWA) dan yang nggak.
Yang penting adalah, kedua angka itu sama-sama jauh di atas minimum requirement Bank Indonesia yang cuma 8%. Artinya, BRI punya “bantal” modal yang sangat tebal untuk ngamanin operasional mereka. Kalau tiba-tiba ada goncangan ekonomi atau kredit bermasalah melonjak, BRI punya cukup modal untuk handle.
Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) BRI tercatat 86,52%, menunjukkan kemampuan penyaluran kredit tetap seimbang dengan penghimpunan dana. LDR yang ideal itu berkisar 78-92%. Terlalu rendah artinya bank kurang optimal dalam menyalurkan kredit (dana nganggur), terlalu tinggi artinya bank terlalu agresif dan berisiko kehabisan likuiditas. BRI ada di sweet spot-nya!
Rasio Cost to Income Ratio (CIR) BRI berada di 38,68%, menunjukkan peningkatan efisiensi operasional. CIR ini ngukur seberapa efisien bank dalam mengelola biaya operasional. Semakin rendah semakin bagus, dan 38,68% ini termasuk sangat efisien untuk bank sebesar BRI yang punya branch network luas banget.
Untuk Gen Z yang mau investasi saham, understanding rasio-rasio ini is crucial! Jangan cuma liat harga saham naik-turun, tapi pahami fundamental perusahaannya. Rasio-rasio kayak gini bisa jadi indikator apakah suatu bank healthy atau nggak.
Prediksi Akhir Tahun: Apa yang Bisa Kita Harapkan?
Melihat performa sembilan bulan pertama, gimana sih outlook BRI untuk sisa tahun 2025? Direktur Utama BRI Hery Gunardi sendiri optimis bahwa target-target dalam RKAP bakal tercapai. Beberapa faktor yang mendukung:
Pertama, kondisi makroekonomi yang membaik. Pertumbuhan PDB tetap terjaga di atas 5% dan diproyeksikan akan tetap stabil. Plus, Bank Indonesia terus memberikan dukungan sistem yang cukup, sehingga hingga 2025 policy rate terus melandai ke level 4,75% dan diikuti penurunan suku bunga pasar uang antarbank. Penurunan suku bunga acuan ini positif untuk perbankan karena cost of fund turun.
Kedua, digitalisasi yang terus digeber. Ekosistem digital banking BRI tercermin dari komposisi transaksi digital yang kini mencapai 99% dari total transaksi di BRI. Ini efficiency yang luar biasa! Semakin banyak transaksi digital, semakin rendah operational cost per transaksi.
Ketiga, positioning sebagai champion UMKM. Dengan ekonomi yang mulai recover, UMKM bakal jadi sektor yang paling cepat bangkit. Dan BRI sebagai bank yang paling deep penetration-nya ke segmen UMKM, bakal jadi beneficiary utama.
Keempat, dukungan program pemerintah yang makin masif. Dari KUR, MBG, sampai program-program inklusi keuangan lainnya, BRI positioned sebagai executing arm utama pemerintah. Ini bukan cuma soal profit, tapi juga social impact yang besar.
Challenge yang perlu diwaspadai: Kenaikan NPL perlu dimonitor terus. Kalau ekonomi global makin volatile atau ada shock besar, NPL bisa naik lebih tinggi. Tapi dengan coverage ratio yang cukup tebal, BRI harusnya bisa handle.
Prediksi konservatif: Laba full year 2025 kemungkinan bakal di range Rp54-57 triliun, sedikit lebih rendah dari 2024. Tapi ini bukan hal buruk mengingat investasi besar yang dilakukan di tahun ini.
Prediksi optimis: Kalau kuartal keempat ngegas dengan penyaluran kredit yang aggressive (historically Q4 emang biasanya tinggi), bukan nggak mungkin laba full year bisa tembus Rp58-60 triliun, bahkan approach atau slight exceed performance tahun lalu.
Baca Juga IHSG Reli 5 Saham Paling Diburu Investor Oktober 2025
BRI Tetap Solid Meski Ada Tantangan
Laba Bank BRI sentuh triliunan rupiah di kuartal ketiga 2025 dengan angka Rp41,23 triliun memang turun dari tahun lalu, tapi kalau kita deep dive, ini bukan indikasi masalah fundamental. Justru, BRI lagi dalam fase strategic investment untuk jangka panjang.
Beberapa poin penting yang perlu diingat:
✅ Kredit UMKM tetap jadi kekuatan utama dengan 80% dari total portofolio
✅ DPK tumbuh solid 8,24% menunjukkan trust nasabah masih tinggi
✅ Rasio CASA 67,65% bikin cost of fund efficient
✅ CAR 23-25% jauh di atas minimum requirement, permodalan sangat kuat
✅ NPL 3,29% masih dalam batas aman meski perlu dimonitor
✅ Digitalisasi 99% transaksi sudah digital, efficiency luar biasa
✅ Program pemerintah berjalan on track dengan target tercapai
Buat kalian yang tertarik investasi di sektor perbankan, BRI tetap jadi pilihan menarik dengan valuasi yang reasonable dan dividen yield yang cukup attractive. Tapi ingat, always do your own research dan jangan invest lebih dari yang kalian mampu kehilangan!
Pertanyaan buat diskusi: Menurut kalian, poin mana yang paling bermanfaat dari data kinerja BRI kuartal ketiga 2025 ini? Dan apakah kalian optimis BRI bisa exceed target di kuartal keempat? Drop pendapat kalian di kolom komentar!
Buat yang mau belajar lebih dalam tentang analisis fundamental perbankan dan financial literacy, jangan lupa cek artikel-artikel keren di berbagai platform edukasi finansial. Stay smart, stay invest!