Pasar modal Indonesia mengalami guncangan berat sepanjang awal Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 4,57% pada 4 Maret dan kembali melemah 3,27% ke level 7.337,36 pada 9 Maret 2026 (BEI/RTI Business, 2026). Bursa Efek Indonesia (BEI) pun angkat suara soal penyebab dan langkah yang perlu diambil investor.
Guncangan ini bukan sekadar fenomena lokal. Seluruh bursa Asia terdampak, dari Nikkei hingga Kospi. Artikel ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa IHSG bisa tertekan sedalam ini, apa kata BEI dan OJK, dan langkah apa yang bisa diambil investor Indonesia hari ini.
Apa yang Terjadi pada IHSG di Awal Maret 2026?

IHSG ditutup melemah tajam sebanyak 248,31 poin atau setara 3,27% ke level 7.337,36 pada akhir perdagangan Senin, 9 Maret 2026 (BEI, 2026). Sebelumnya, IHSG melemah 4,57% ke level 7.577,06 pada perdagangan Rabu 4 Maret, bahkan sempat terjun ke level terendah 7.486,32 (BEI, 2026).
Jika dihitung kumulatif, IHSG telah anjlok 4,57% ke 7.577 pada 4 Maret dan 2,33% ke 7.531 pada 6 Maret, dengan posisi YTD turun 4,76% hingga akhir Februari dari level awal tahun 8.225 (OJK, 2026).
Tekanan terhadap indeks sudah terasa sejak awal perdagangan 9 Maret. IHSG dibuka pada posisi 7.374,31, kemudian aksi jual menyebabkan penurunan tajam hingga menyentuh titik terendah di 7.156,68 sebelum mencoba rebound (Monitor Indonesia, 2026).
Ini merupakan salah satu tekanan terburuk pasar modal Indonesia dalam beberapa bulan terakhir — dan semuanya berawal dari satu titik: kawasan Timur Tengah.
Key Takeaway: Dalam sepekan (4–9 Maret 2026), IHSG kehilangan lebih dari 400 poin kumulatif akibat tekanan global yang intens.
Apa Penyebab Utama IHSG Anjlok?

Tiga faktor utama secara bersamaan menekan pasar modal Indonesia di awal Maret 2026: eskalasi geopolitik Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, dan tekanan fiskal domestik.
1. Eskalasi Geopolitik: Iran Tutup Selat Hormuz
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menyatakan pelemahan terjadi imbas meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Konflik kian memanas setelah Iran menutup pelayaran di Selat Hormuz, memicu kekhawatiran munculnya krisis energi yang sudah tercermin pada kenaikan harga minyak dunia (Detik Finance, 2026).
Produsen minyak utama di Timur Tengah seperti Kuwait, Iran, dan Uni Emirat Arab dilaporkan memangkas produksi minyak mentah setelah pengiriman melalui Selat Hormuz terhenti (Liputan6, 2026).
2. Harga Minyak Menembus USD 100 per Barel
Harga minyak mentah meningkat tajam: minyak WTI naik 11,86% ke level USD 101,68 per barel dan minyak Brent naik 12,77% ke level USD 104,53 per barel pada perdagangan 9 Maret 2026 (Liputan6, 2026). Lonjakan ini memicu kekhawatiran inflasi global dan perlambatan ekonomi.
3. Tekanan Fiskal Domestik
Dari dalam negeri, APBN Februari 2026 mencatat defisit Rp135,7 triliun atau setara 0,53% terhadap PDB. Kenaikan harga minyak global dinilai berpotensi memperlebar defisit anggaran tahun ini (Liputan6, 2026). Selain itu, Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang Indonesia menjadi Negatif — sinyal yang direspons negatif oleh investor asing.
Key Takeaway: Kombinasi krisis energi global, tekanan fiskal domestik, dan sentimen risk-off investor asing menjadi tiga pemicu utama guncangan IHSG Maret 2026.
Apa Kata BEI soal Anjloknya IHSG?

BEI tidak tinggal diam. Dua pejabat senior BEI angkat suara langsung kepada publik dan media.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menegaskan pelemahan IHSG sejalan dengan pergerakan bursa saham regional yang juga mengalami tekanan signifikan. Tekanan di pasar domestik bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari sentimen risk-off global yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik (Detik Finance, 2026).
Irvan juga menyebut bahwa pasar saham Korea Selatan sempat mengalami trading halt setelah indeksnya turun lebih dari 8%, menandakan tingginya volatilitas di pasar keuangan Asia (Detik Finance, 2026).
Sementara itu, Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa pergerakan harga saham di pasar modal Indonesia banyak dipengaruhi faktor eksternal, dan meminta investor agar selalu rasional, memperhatikan faktor fundamental, dan menyesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing-masing (CNBC Indonesia, 2026).
Jeffrey menilai kondisi pasar saat ini masih lebih baik dibandingkan gejolak yang sempat terjadi pada April 2025 akibat kebijakan tarif yang diumumkan Presiden AS Donald Trump (CNBC Indonesia, 2026).
Key Takeaway: BEI menegaskan pelemahan IHSG bersifat eksternal dan bukan cerminan fundamental ekonomi Indonesia. Investor diminta tetap rasional.
Bagaimana Respons OJK terhadap Volatilitas Pasar?
OJK selaku regulator pasar modal turut memberikan respons resmi atas gejolak ini.
Pjs. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyatakan bahwa IHSG pada akhir Februari 2026 ditutup di level 8.225,49, terkoreksi 1,13% secara month-to-date atau 4,76% secara year-to-date. Rata-rata nilai transaksi harian perdagangan saham pada Februari 2026 tercatat cukup tinggi di angka Rp25,62 triliun, konsisten di atas Rp25 triliun sejak Agustus 2025 (OJK, 2026).
OJK menyatakan terus memantau pergerakan pasar serta melakukan koordinasi dengan SRO Indonesia, KSEI, dan KPEI, serta para pelaku industri pasar modal dalam mengambil langkah kebijakan yang diperlukan (OJK, 2026).
OJK juga mencatat ketahanan perbankan Indonesia tetap solid pada triwulan I-2026, memberikan bantalan stabilitas di tengah gejolak pasar modal.
Key Takeaway: OJK aktif berkoordinasi dengan seluruh ekosistem pasar modal Indonesia dan memastikan pengawasan ketat selama periode volatilitas tinggi ini.
Apa Dampaknya bagi Investor Indonesia?
Pada penutupan 9 Maret 2026, sektor transportasi mengalami koreksi paling dalam sebesar 5,22%, diikuti sektor bahan baku anjlok 4,59%, sektor konsumer siklikal tergerus 4,54%, sektor energi melemah 4,33%, sektor industri merosot 4,04%, dan sektor properti menyusut 4,57% (Liputan6, 2026).
Muhammad Wafi, Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), menjelaskan investor saat ini cenderung menghindari aset berisiko tinggi dengan melikuidasi saham big caps dan merotasi ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS (Detik Finance, 2026).
Dari sisi asing, sepanjang tahun 2026, aksi jual bersih asing tercatat menembus Rp6,69 triliun (Detik Finance, 2026). Rupiah pun ikut tertekan, dengan nilai tukar menyentuh Rp17.009 per dolar AS pada 9 Maret 2026 (Monitor Indonesia, 2026).
Namun ada catatan penting: Kepala BPDP Purbaya menegaskan bahwa ekonomi Indonesia jauh dari resesi dan masih dalam kondisi ekspansi. “Jangankan krisis, resesi saja belum, melambatnya saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi,” ujarnya (CNBC Indonesia, 2026).
Key Takeaway: Tekanan berat pada semua sektor terjadi secara merata, tetapi fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih solid oleh otoritas.
Apa Langkah yang Bisa Diambil Investor Saat IHSG Anjlok?
Dalam kondisi volatilitas ekstrem seperti ini, tiga pendekatan berikut relevan untuk investor ritel Indonesia.
Pertama, tetap rasional dan periksa fundamental. Seperti yang ditegaskan BEI, penurunan yang dipicu faktor eksternal berbeda dengan penurunan karena masalah fundamental perusahaan. Saham dengan fundamental kuat cenderung pulih lebih cepat pasca-gejolak geopolitik.
Kedua, perhatikan strategi diversifikasi aset. Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, investor global cenderung beralih ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS (KISI/Detik Finance, 2026). Menyisihkan sebagian portofolio ke instrumen defensif seperti obligasi pemerintah (SBN) atau reksa dana pasar uang adalah langkah prudent.
Ketiga, pantau perkembangan Timur Tengah dan kebijakan energi global. Analis Ibrahim Assuaibi memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut dan pasokan energi global terganggu, harga minyak berpotensi meningkat lebih tinggi lagi, bahkan proyeksi sebagian analis menyebut level USD 200 per barel apabila dalam satu bulan ke depan belum ada penyelesaian krisis (Monitor Indonesia, 2026). Eskalasi lebih lanjut akan menjadi sentimen negatif tambahan bagi IHSG.
Key Takeaway: Tetap rasional, diversifikasi ke aset defensif, dan pantau perkembangan geopolitik adalah tiga langkah utama investor menghadapi gejolak IHSG Maret 2026.
Baca Juga Rupiah Melemah Rp16.787: Dampak Ketegangan AS–Iran
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa IHSG bisa anjlok lebih dari 4% dalam sehari?
Pelemahan IHSG dipicu kondisi uncertainty yang sangat tinggi akibat faktor eksternal, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia dan sentimen risk-off global secara bersamaan (BEI/CNBC Indonesia, 2026).
Apakah Indonesia menghadapi risiko resesi akibat IHSG anjlok?
Tidak. Kepala BPDP Purbaya menegaskan kondisi perekonomian Indonesia masih ekspansi dan akselerasi, bukan resesi. Indonesia telah melewati krisis 1998, 2008–2009, dan 2020 dengan kebijakan yang tepat (CNBC Indonesia, 2026).
Apa yang dilakukan BEI untuk menstabilkan pasar?
BEI menegaskan telah mempersiapkan infrastruktur dan sistem yang memfasilitasi investor untuk tetap bertransaksi dengan normal, sambil meminta investor agar rasional dan menyesuaikan strategi dengan toleransi risiko masing-masing (BEI/CNBC Indonesia, 2026).
Sektor saham apa yang paling terdampak?
Sektor transportasi mencatat koreksi paling dalam sebesar 5,22%, disusul sektor properti 4,57%, bahan baku 4,59%, dan konsumer siklikal 4,54% pada penutupan 9 Maret 2026 (Liputan6, 2026).
Apakah investor asing keluar dari pasar Indonesia?
Ya. Sepanjang 2026, aksi jual bersih asing di pasar saham Indonesia sudah menembus Rp6,69 triliun (Detik Finance, 2026). Ini mencerminkan sikap defensif investor global terhadap aset negara berkembang di tengah ketidakpastian geopolitik.
Kesimpulan
Guncangan IHSG di awal Maret 2026 adalah cerminan langsung dari krisis energi global yang dipicu konflik Timur Tengah — bukan sinyal lemahnya fundamental ekonomi Indonesia. BEI dan OJK telah angkat suara dengan pesan yang sama: tetap tenang, rasional, dan perhatikan fundamental. Bagi investor, ini adalah momen untuk membuktikan disiplin investasi jangka panjang, bukan kepanikan jangka pendek.
Pantau terus perkembangan pasar modal Indonesia di oldandstandrews.com — subscribe untuk update Keuangan & Investasi terbaru langsung ke kotak masuk Anda.
Tentang Penulis: Artikel ini diproduksi oleh tim redaksi oldandstandrews.com, platform analisis keuangan dan investasi Indonesia yang berfokus pada literasi pasar modal berbasis data. Proses editorial meliputi riset data primer dari sumber tier-1 (BEI, OJK, Bank Indonesia), verifikasi fakta lintas sumber, dan review sebelum publikasi.
Info Artikel: Dipublikasikan: 10 Maret 2026 | Diperbarui: 10 Maret 2026 | Review berikutnya: 10 Juni 2026
Referensi
- Bursa Efek Indonesia (BEI) — Keterangan resmi Irvan Susandy, 4 Maret 2026.
- OJK — Konferensi pers RDKB Februari 2026, Hasan Fawzi, 3 Maret 2026.
- CNBC Indonesia — Respons Pjs. Dirut BEI Jeffrey Hendrik, 9 Maret 2026.
- Liputan6.com — Data penutupan IHSG & analisis sektoral, 9 Maret 2026.
- Monitor Indonesia — Klarifikasi BEI pasca IHSG anjlok, 9 Maret 2026.