oldandstandrews.com, 21 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Pyongyang, Korea Utara – Korea Utara kembali mengejutkan dunia internasional dengan pengungkapan bahwa negara tersebut telah membangun dan meluncurkan kapal selam strategis bertenaga nuklir terbesar yang pernah mereka miliki. Kapal selam ini, dinamai Hero Kim Kun Ok, diyakini menjadi salah satu aset militer paling canggih dalam sejarah militer Korea Utara, serta simbol eskalasi kekuatan bawah laut di kawasan Asia Timur.
Kapal Selam Strategis: Kapasitas dan Kemampuan

Kapal selam Hero Kim Kun Ok diluncurkan pada 6 September 2023 dan diperkirakan memiliki bobot antara 6.000 hingga 7.000 ton. Kapal ini diyakini mampu membawa hingga 10 rudal balistik dengan hulu ledak nuklir. Dengan kapasitas tersebut, kapal selam ini secara signifikan meningkatkan kemampuan serangan strategis Korea Utara, terutama dalam konteks peluncuran rudal dari bawah laut yang sulit dideteksi sistem pertahanan konvensional.

Pengamat militer menilai bahwa kapal selam ini merupakan hasil modifikasi dari kapal selam kelas Romeo, peninggalan era Uni Soviet. Korea Utara dilaporkan telah melakukan serangkaian perubahan besar pada struktur kapal, termasuk penambahan kompartemen rudal vertikal dan penguatan sistem propulsi bawah laut. Salah satu fitur utama adalah kemampuan kapal untuk meluncurkan rudal dari posisi terendam—suatu fitur penting dalam taktik serangan nuklir strategis.
Peran Rusia dan Dugaan Bantuan Teknis

Yang menjadi sorotan adalah dugaan keterlibatan Rusia dalam pengembangan kapal selam tersebut. Pada Maret 2024, Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, melakukan kunjungan ke galangan kapal di Timur Jauh Rusia. Kunjungan tersebut terjadi tidak lama setelah laporan mengenai pembangunan kapal selam itu mencuat, memicu spekulasi bahwa Rusia mungkin telah memberikan dukungan teknis atau material kepada Pyongyang.
Hal ini semakin diperkuat dengan ditandatanganinya pakta pertahanan antara Korea Utara dan Rusia pada Juni 2024. Pakta tersebut menyatakan komitmen kedua negara untuk saling membantu jika salah satu diserang, dan secara tidak langsung menandakan kedekatan hubungan strategis, termasuk kemungkinan alih teknologi militer.
Menurut sejumlah laporan intelijen Barat, Korea Utara juga mendapatkan akses terhadap teknologi kapal selam nuklir, sistem peluncur vertikal, serta kendaraan nirawak bawah laut dari mitra-mitra eksternal, termasuk Rusia. Salah satu perangkat canggih yang dikembangkan adalah kendaraan nirawak bersenjata nuklir bernama “Haeil”, yang diyakini dapat membawa hulu ledak nuklir secara otonom melalui jalur laut untuk menyerang target musuh.
Respon Internasional dan Ketegangan Regional

Langkah Korea Utara ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan negara-negara tetangga, terutama Korea Selatan dan Jepang. Amerika Serikat juga menyatakan keprihatinan atas meningkatnya kapabilitas militer Pyongyang yang dinilai mengganggu stabilitas kawasan dan menantang rezim non-proliferasi global.
Peluncuran kapal selam ini terjadi hanya beberapa hari sebelum latihan militer bersama antara Amerika Serikat dan Korea Selatan digelar. Korea Utara menuduh latihan tersebut sebagai simulasi invasi, dan sebagai balasannya, mempercepat modernisasi persenjataan strategisnya.
Pejabat Pentagon menyatakan bahwa kapal selam Hero Kim Kun Ok menunjukkan kemajuan signifikan dalam upaya Korea Utara untuk memiliki sistem peluncuran rudal balistik bawah laut (SLBM). Namun, sejumlah analis juga meragukan keandalan dan tingkat kesiapan operasional kapal tersebut karena tidak adanya bukti pengujian tempur langsung.
Kesimpulan: Era Baru Dominasi Bawah Laut Korea Utara
Pembangunan kapal selam nuklir strategis ini menandai era baru dalam modernisasi militer Korea Utara. Jika sebelumnya kekuatan laut negara ini lebih mengandalkan kapal diesel-listrik yang mudah terdeteksi, kini Pyongyang tampaknya mulai mengejar dominasi bawah laut melalui teknologi yang lebih canggih dan sulit dilacak.
Terlepas dari berbagai sanksi internasional dan isolasi diplomatik, Korea Utara tampaknya berhasil mengembangkan kemampuan militernya dengan dukungan terselubung dari mitra strategis seperti Rusia. Langkah ini mempertegas posisi Korea Utara sebagai kekuatan militer yang tidak dapat diabaikan, serta meningkatkan risiko konflik berskala besar di kawasan Asia Timur jika diplomasi internasional gagal mengatasi ketegangan yang semakin meningkat.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Subianto: Ibadah Haji Harus Bebas dari Praktik Manipulatif
BACA JUGA: Pejuang Wanita dari Kivu Utara: Takdir yang Mustahil