oldandstandrews.com, 18 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88
Latar Belakang: Konflik Panjang di Gaza

Konflik antara Israel dan kelompok bersenjata Palestina, khususnya Hamas, telah berlangsung selama puluhan tahun. Sejak Oktober 2023, konflik tersebut kembali memanas setelah Hamas melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah selatan Israel. Serangan tersebut memicu respons militer besar dari Israel, yang menyebabkan kehancuran besar di Jalur Gaza dan menewaskan ribuan orang, termasuk warga sipil, perempuan, dan anak-anak.
Di tengah meningkatnya kekerasan, banyak warga asing yang berada di wilayah tersebut terjebak atau bahkan menjadi korban penahanan. Salah satu dari mereka adalah Alexander Trufanov, seorang warga negara Rusia yang diketahui berada di Gaza saat konflik pecah. Ia ditahan oleh kelompok Hamas dan baru dibebaskan setelah hampir 500 hari ditawan.
Pembebasan Alexander Trufanov dan Peran Hamas

Pada Februari 2025, Alexander Trufanov dibebaskan dalam kerangka kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel, yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat. Gencatan senjata ini mencakup berbagai elemen, termasuk penghentian sementara permusuhan, pertukaran sandera, serta pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza yang dilanda krisis.
Trufanov merupakan satu dari beberapa sandera asing yang dibebaskan dalam tahap awal kesepakatan ini. Ia kemudian dipulangkan ke Rusia, dan pada pertengahan April 2025, ia disambut langsung oleh Presiden Vladimir Putin di Kremlin.
Dalam kesempatan tersebut, Putin secara terbuka menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Hamas karena telah membebaskan Trufanov. Ia menyebut tindakan Hamas sebagai “langkah kemanusiaan yang patut diapresiasi”, dan menambahkan bahwa pembebasan ini adalah hasil dari hubungan baik antara Rusia dan rakyat Palestina, termasuk Hamas.
Putin dan Diplomasi Rusia di Timur Tengah

Pernyataan Putin menuai perhatian dunia internasional. Sebab, berbeda dengan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Uni Eropa yang menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris, Rusia tidak mengikuti langkah tersebut. Sejak kemenangan Hamas dalam pemilihan legislatif Palestina tahun 2006, Rusia telah menjalin komunikasi dengan kelompok itu.
Putin dan pejabat Kremlin telah beberapa kali menyatakan bahwa mereka tidak menyetujui semua tindakan Hamas, terutama serangan terhadap warga sipil. Namun, Moskow tetap memandang penting untuk menjaga dialog demi stabilitas dan perdamaian di kawasan. Pendekatan ini juga mencerminkan upaya Rusia untuk menempatkan dirinya sebagai kekuatan penyeimbang di Timur Tengah, berseberangan dengan dominasi politik Amerika Serikat.
Kritik Terhadap Serangan Israel dan Dukungan pada Palestina

Selain menyampaikan apresiasi kepada Hamas, Putin juga mengkritik keras operasi militer Israel di Jalur Gaza. Ia menyebut bahwa skala kehancuran yang ditimbulkan tidak proporsional dan menyebabkan penderitaan luar biasa bagi rakyat sipil. Dalam beberapa pidatonya, Putin menggarisbawahi bahwa penderitaan rakyat Palestina adalah “luka kemanusiaan” yang dirasakan oleh umat Muslim dan dunia secara luas.
Putin juga menegaskan dukungan Rusia terhadap pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, sesuai dengan garis perbatasan sebelum perang tahun 1967, dan dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Ini merupakan prinsip dasar yang telah lama dipegang oleh Rusia dalam kebijakan luar negeri mereka.
Kebijakan ini disambut baik oleh banyak negara di dunia Arab dan Muslim, yang menilai Rusia sebagai kekuatan global yang lebih netral dalam isu Palestina dibandingkan dengan negara-negara Barat.
Rusia, Hamas, dan Politik Realisme

Hubungan antara Rusia dan Hamas sering dilihat melalui lensa pragmatisme politik. Meskipun Rusia tidak mendukung ideologi Islamis militan, mereka tetap membuka kanal diplomasi dengan Hamas sebagai aktor politik yang memiliki pengaruh besar di Gaza. Pendekatan realis ini memungkinkan Rusia memainkan peran sebagai mediator, terutama ketika aktor lain menutup pintu dialog.
Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan pernah menjadi tuan rumah bagi perwakilan Hamas di Moskow dalam upaya menjembatani dialog antara berbagai faksi Palestina, termasuk Fatah yang berbasis di Tepi Barat. Tujuannya adalah untuk menyatukan kembali pemerintahan Palestina yang terpecah sejak 2007.
Apa Implikasi dari Ucapan Terima Kasih Putin?
Ucapan terima kasih Putin kepada Hamas bisa dibaca dalam beberapa lapisan makna:
- Isyarat Politik Internasional: Rusia ingin memperkuat posisinya di Timur Tengah sebagai kekuatan penyeimbang dan penengah konflik, menyaingi dominasi AS.
- Pesan kepada Dunia Arab dan Muslim: Putin berusaha menjaga simpati dan dukungan dari negara-negara Muslim, terutama di tengah meningkatnya kritik terhadap Israel atas serangan di Gaza.
- Komitmen terhadap Diplomasi Multiarah: Dengan menjaga komunikasi baik dengan semua pihak—Israel, Hamas, Iran, Suriah, dan Turki—Rusia ingin menunjukkan kemampuannya sebagai kekuatan global yang fleksibel dan tidak terikat pada blok tertentu.
- Perlindungan terhadap Warga Negara: Putin juga ingin menampilkan citra bahwa Rusia tidak akan meninggalkan warganya, dan akan melakukan segala cara untuk membebaskan mereka jika ditahan di luar negeri.
Penutup
Pernyataan Vladimir Putin yang mengucapkan terima kasih kepada Hamas bukanlah pernyataan biasa. Di balik kata-kata itu, terdapat strategi geopolitik dan diplomasi yang dalam. Rusia berupaya menegaskan dirinya sebagai kekuatan global yang netral dan mampu menjembatani konflik, bahkan dalam isu yang sepeka konflik Israel-Palestina.
Dengan semakin banyaknya aktor internasional yang terlibat dalam konflik ini, peran Rusia—dan cara mereka membangun relasi dengan kelompok seperti Hamas—akan terus menjadi perhatian utama dunia internasional dalam upaya mencari jalan damai di Timur Tengah.
BACA JUGA: Balinuraga: Sejarah Kelam Tanah Lampung dan Bali
BACA JUGA: China Menanggapi Kebijakan AS dengan Kenaikan Tarif Pajak Hingga 245 Persen
BACA JUGA: Serangan Rusia ke Odessa: Dampak terhadap Infrastruktur dan Ekonomi Ukraina