oldandstandrews.com, 13 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Bab I: Krisis yang Tak Pernah Usai – Latar Belakang Perang Rusia-Ukraina
Konflik antara Rusia dan Ukraina merupakan salah satu krisis geopolitik terbesar abad ke-21. Dimulai dengan aneksasi Krimea oleh Rusia pada 2014, eskalasi meningkat drastis pada Februari 2022, ketika Presiden Vladimir Putin melancarkan invasi militer besar-besaran ke Ukraina.
Dalam waktu singkat, Rusia menyerang dari berbagai arah: timur (melalui Donetsk dan Luhansk), selatan (via Krimea dan Laut Hitam), dan utara (melalui wilayah Belarus). Target utama dari agresi ini adalah menggulingkan pemerintahan Presiden Volodymyr Zelenskyy dan mengendalikan Ukraina sebagai negara satelit Rusia.
Dua tahun berselang, perang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Sebaliknya, situasi kini memasuki fase yang lebih genting: Kyiv, ibu kota Ukraina, menjadi target utama serang an baru Rusia.
Bab II: Eskalasi Terkini – Kyiv di Ambang Kejatuhan?

1. Intensitas Serangan Meningkat
Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan Rusia meningkatkan intensitas serang an terhadap Kyiv dan wilayah sekitarnya. Serang an udara, rudal jarak jauh, drone kamikaze Shahed buatan Iran, serta operasi sabotase dilaporkan terus menerus menghantam infrastruktur vital:
- Jaringan listrik dan air
- Sistem komunikasi dan internet
- Rumah sakit dan fasilitas sipil
- Jalur pasokan logistik militer Ukraina
Meskipun sistem pertahanan udara Ukraina seperti NASAMS dan IRIS-T telah menahan sebagian besar rudal, jumlah serang an yang sangat tinggi membuat banyak yang tetap lolos.
2. Peta Wilayah: Rusia Makin Luas Menguasai Ukraina

Berikut adalah ringkasan wilayah-wilayah yang kini diklaim atau dikuasai oleh Rusia secara de facto:
- Krimea: Sudah dianeksasi secara ilegal oleh Rusia sejak 2014.
- Donetsk dan Luhansk: Sebagian besar wilayah ini kini berada di bawah kendali milisi pro-Rusia dan tentara reguler Rusia.
- Zaporizhzhia dan Kherson: Dikuasai sebagian besar sejak 2022, meskipun Ukraina sempat merebut beberapa wilayah kembali.
- Bakhmut, Mariupol, Severodonetsk: Kota-kota strategis yang telah mengalami kehancuran total akibat pertempuran.
Jika Kyiv jatuh, maka praktis Rusia akan menguasai hampir 70–80% wilayah daratan Ukraina, sebuah pukulan besar terhadap kedaulatan negara tersebut dan stabilitas Eropa.
Bab III: Trump dan Perang Dagang – Fokus Amerika yang Terpecah

1. Trump Kembali dengan Agenda Lama
Di tengah konflik yang berkecamuk, Donald Trump kembali aktif di dunia politik menjelang Pilpres AS 2024. Salah satu isu utama yang kembali ia gencarkan adalah perang dagang, terutama terhadap:
- Tiongkok, yang ia tuduh mencuri teknologi dan pekerjaan dari Amerika
- Eropa, terkait tarif mobil dan pertanian
- Negara-negara Global Selatan, yang menurutnya memanfaatkan pasar bebas tanpa kontribusi yang adil

Trump menyerukan peningkatan tarif impor, pemutusan beberapa perjanjian dagang, dan relokasi industri kembali ke AS.
2. Dampaknya Terhadap Kebijakan Luar Negeri
Akibat fokus Trump terhadap isu ekonomi domestik dan proteksionisme, kekhawatiran muncul bahwa AS akan mengendurkan dukungan terhadap Ukraina jika Trump kembali berkuasa. Dalam berbagai pidatonya, ia bahkan menyatakan bahwa:
“Jika saya menjadi Presiden, perang ini akan selesai dalam 24 jam. Tapi saya tidak akan terus memberi Ukraina cek kosong.”
Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan aliansi NATO: Apakah Trump akan tetap komitmen pada pertahanan kolektif? Ataukah ia akan mengutamakan kepentingan domestik dan membiarkan Ukraina berjuang sendiri?
Bab IV: Dunia Internasional – Kompak atau Terpecah?

1. NATO dan Uni Eropa dalam Dilema
Seiring meningkatnya ancaman dari Rusia, NATO dan UE terus memberikan bantuan, baik berupa:
- Sistem senjata (tank Leopard 2, HIMARS, Patriot)
- Bantuan kemanusiaan
- Pelatihan pasukan Ukraina
- Sanksi ekonomi terhadap Rusia
Namun, bantuan ini tidak selalu cukup atau datang tepat waktu. Banyak negara Eropa kini menghadapi tekanan dalam negeri berupa inflasi, krisis energi, dan ketidakpuasan publik atas biaya perang.
2. Posisi Negara-negara Global Selatan dan Asia
Beberapa negara besar di Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengambil sikap netral atau condong ke Rusia. Di antaranya:
- Tiongkok: Mitra strategis Rusia yang secara diam-diam mendukung lewat perdagangan dan teknologi.
- India: Meski dekat dengan Barat, tetap membeli minyak dari Rusia.
- Brasil dan Afrika Selatan: Mendorong mediasi damai, tapi enggan mengutuk Rusia secara tegas.
Bab V: Ukraina Hari Ini – Bertahan di Tengah Keterbatasan

1. Perlawanan yang Heroik
Meskipun di serang secara brutal, rakyat Ukraina terus bertahan. Dari tentara hingga warga sipil, semua berperan dalam mempertahankan negaranya:
- Wanita bergabung dalam milisi pertahanan
- Anak-anak bersekolah di bunker bawah tanah
- Petugas medis bekerja tanpa henti di zona tempur
2. Kebutuhan Bantuan Mendesak
Ukraina membutuhkan lebih dari sekadar senjata. Mereka juga memerlukan:
- Bantuan medis dan psikologis
- Peralatan energi (generator, panel surya)
- Rekonstruksi infrastruktur sipil
- Dukungan diplomatik global
Bab VI: Apakah Ini Akhir Ukraina? Atau Awal Perlawanan Baru?
Jika Kyiv jatuh, maka dunia akan menyaksikan salah satu perubahan terbesar dalam tatanan internasional sejak Perang Dunia II. Namun, banyak pihak percaya bahwa semangat rakyat Ukraina akan terus menyala, bahkan jika mereka kehilangan ibu kota.
Pertanyaannya bukan hanya tentang wilayah yang jatuh, tetapi apakah dunia akan terus membiarkan pelanggaran hukum internasional tanpa konsekuensi?
Kesimpulan: Perang Dua Front – Peluru di Eropa, Tarif di Amerika
Perang di Ukraina bukan lagi konflik lokal. Ini adalah ujian terhadap ketahanan nilai-nilai demokrasi, hak kedaulatan, dan solidaritas global. Saat Rusia terus menekan Kyiv, dunia justru terpecah fokus — sebagian pada perang dagang, sebagian lagi pada krisis ekonomi domestik.
Sementara Trump terus membangun narasi tentang Amerika yang tertindas dalam sistem global, Putin memanfaatkan kekosongan perhatian dunia untuk terus mengukuhkan ambisinya di Ukraina.
Apakah kita sedang menyaksikan awal dari era baru dominasi otoriter? Ataukah dunia akan bersatu kembali sebelum semuanya terlambat.